Sabtu, 28 Februari 2015

teks review film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck"

Kisah Kebangkitan Sejati


         Film tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan film drama romantis Indonesia tahun 2013 yang disutradarai oleh Sunil Soraya dan diproduseri Ram Soraya. Film ini diadaptasi dari novel bearjudul sasma karangan Buya Hamka. Film ini berpaku pada hal-hal yang berkaitan dengan gender, ras, agama, latar belakang, dll. Diproduksi oleh Soraya Intercine Films dan dibintangi antara lain oleh Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahadian, dan Randy Danistha.

         Dengan biaya produksi yang tinggi, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi film termahal yang pernah diproduksi Soraya Intercine Films. Proses produksinya mencapai 5 tahun, dan penulisan skenarionya selama 2 tahun. Film ini dirilis pada tanggal 19 Desember 2013. Film ini menceritakan kisah cinta Zainuddinyang ditolak Hayati karena perbedaan adat yang terasa kental. Hayati lebih memilih Aziz (seorang anak kaya raya) kemudian menikah. Aziz sangat depresi, tetapi karena motivasi Muluk (sepupunya), ia bangkit dari keterpurukannya dan mereka berdua sukses di rantauan (Batavia & Soerabaja). Aziz dan Hayati yang datang ke Soerabaja juga sempat mengunjungi Zainuddin, tetapi mereka dililit hutang sampai jatuh miskindan tinggal di rumah Zainuddin. Zainuddin sangat menerima mereka dengan baik, sampai Aziz pasrah mencari kerja sehingga ia bunuh diri lalu menitipkan Hayati ke Zainuddin. Zainuddin bersikeras ingin memulangkan Hayati ke Padang Pajang. Hayati pulang menaiki Kapal Van der Wijck. Tiba-tiba kapal itu tenggelam.

       Pada Film ini menggambarkan sebuah kisah cinta yang dialami dua insan berbeda adat yaitu Padang-Bugis(Zainuddin) dan Padang asli(Hayati). Dari film ini terlihat jelas kalau pada zaman dahulu adat sangat mempengaruhi hubungan sosial seseorang, seperti halnya saat di Padang Zainuddin diusir karna sering berduaan dengan Hayati karena tidak sesuai adat sehingga Zainuddin pun pergi ke Padang Panjang tepatnya Desa Batipuh.

    Selain mempengaruhi hubungan sosial, adat Minang disana sangat ketat dalam masalah percintaan, Lamaran Zainuddin ditolak karena ia tidak jelas asal usulnya walau ayahnya dulu seorang Pendekar yg terkenal. Sedangkan, lamaran Aziz diterima karena Aziz merupakan anak dari orang yang terpandang dan kaya raya. Itu semua telah diputuskan para Ketua-Ketua desa dan tidak bisa diganggu gugat walau Hayati menerimanya sebenarnya ia merasa sedih karena harus menolak Aziz dan hanya menerimanya sebagai sahabatnya saja.

      Jika dibandingkan dengan film romantis bertema modern, adat dan istiadat tidak menjadi pengaruh besar dalam berhubungan sosial. Walau banyak konflik di dalamnya , itupun hanya sebatas konflik restu orang tua, patah hati, dikhianati, dsb.

      “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” mengajarkan kita untuk tidak menyerah walau telah mengalami masa-masa yang sulit untuk dihadapi ataupun diterima karena disaat kita kesusahan pasti ada sahabat yang setia di sisi kita walau hanya 1, seperti Zainuddin yang sudah terlalu depresi tapi ada Bang Muluk (Sepupunya) yang memotivasi dia untuk tetap maju sampai kini Zainuddin merantau bersama Bang Muluk ke Batavia (Jakarta pada zaman penjajahan Belanda) yang tadinya hanya penulis cerita di koran dan sekarang menjadi penulis novel “Teroesir” yang sangat terkenal dan sukses.

           Apa yang dialami rumah tangga Aziz dan Hayati mengajarkan kita kalau suatu hubungan tidak bisa kuat tanpa didasari dengan saling percaya dan kasih sayang. Ya, Aziz dan Hayati sering bertengkar dan mereka pun mengunjungi opera “Teroesir” di Soerbaja, dimana rumah Aziz yang sangat besar berada, yang mereka baru ketahui kalau Zainuddin sudah sesukses itu. Aziz ternyata dililit hutang sampai-sampai  ia menumpang tinggal bersama Hayati di rumah Zainuddin.

         Film ini mengajarkan pula kalau kita tidak boleh menjadi seseorang pedendam dan harus ikhlas. Terbukti saat Aziz dan Hayati menumpang hidup, Zainuddin menerimamereka dengan sangat tulus sebagai sahabat lama, bahkan Aziz sakit pun dibiayainya. Dari situ Aziz juga mengajarkan kalau kita tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain sehingga ia memutuskan untuk merantau mencari pekerjaan dan menitipkan Hayati kepada Zainuddin hingga  ia mendapat pekerjaan sendiri. Tetapi, karena Aziz sangat tertekan, ia pun bunuh diri dan meninggalkan surat kepada Zainuddin untuk merawat Hayati dengan baik.

        Dari beberapa adegan yang kita bisa ambil, kita bisa pelajari, walau rasa sayang itu sudah hilang dari permukaan. Jauh di dalam sana sebenarnya rasa sayang itu masih ada seperti sebuah anak ayam yang membutuhkan kehangatan di dasar jurang yang gelap. Layaknya Zainuddin yang ternyata sangat mencintai Hayati bahkan di dalam ruangan kerjanya terpampang lukisan Hayati terpampang besar dengan tulisan “Permataku yang Hilang”

        Sikap Zainuddin terlihat sangat konsisten dengan janji Hayati yang hanya menginginkan sebagai Sahabat saja. Zainuddin menyuruh Hayati pulang kembali ke desa dengan dibiayai Zainuddin menaiki kapan Van der Wijck dari pelanuhan Tanjoeng Perak diantar Bang Muluk. Hayati juga meninggalkan pesan yang dititipkannya kepada Bang Muluk untuk diserahkan ke Zainuddin. Ketika Zainuddin membacanya seketika itu ia juga tau dari koran kalau kapan Ss. Van der Wijck tenggelam tanpa sebab. Zainuddin dan Bang muluk langsung tancap gas ke rumah sakit dimana para korban berada.

       Apa yang telah terjadi pada Hayati, sangat disesali oleh Zainuddin, seolah memberitahu kita kalau kesempatan yang sama tidak pernah datang dua kali. Hayati disitu sekarat dan tidak bisa tertolong. Permintaan terakhir Hayati pada Zainuddin hanyalah untuk menyempurnakan doanya untuk Hayati kepada Tuhan. Akhirnya, Hayati tewas dan dikuburkan di Jember.

      Zainuddin tetap bangkit , dia rutin mengaji dan membacakan doa di makam Hayati, sampai diapun membuat novel yang sangat bagus lagi yang realistis dari kisah perjuangan sejatinya dimana ia menyatakan kalau Hayati masih hidup dalam novel itu. Novel itu berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” .Dari apa yang dialami oleh Zainuddin mencontohkan kepada kita selaku penonton , bahwa sesulit dan sebanyak apapun derita, kesulitan, rasa sakit yang menjatukan segenap jiwa raga , kita pasti bisa melewatinya untuk tetap berdiri tegar mengangkat kepala menuju perubahan dimana kebahagian menunggu tanpa mengenal waktu.

       Film ini memiliki scene-scene yang berlatarkan sesaui dengan masa penjajahan sehingga suasana abad 19an sangat terasa dipandangan penonton. Suasana adat yang sangat ketal juga bagus saat ditayangkan. Efek pencahayaan atau filter yang digunakan sudah cukup bagus karena dapat menghidupkan pencitraan penonton. Penekanan pada cinta dan tetap bangkit merupakan salah satu karakteristik film ini. Tidak lupa dengan banyaknya pelajaran hidup yang bisa dipelajari dari film ini. Konfliknya sangat hidup dan rumit sehingga membuat penonton tertarik mengikutinya. Ditambah dengan pemeran tokoh utama dalam film tersebut merupakan aktor/aktris terkenal yang memiliki banyak penggemar dan sangat ahli dibidangnya.

         Sayangnya, sebagai salah satu film yang menarik dan banyak mengandung pelajarn-pelajaran moril , film ini menunjukkan budaya barat yang tidak sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia. Juga ada beberapa adegan yang tidak pantas untuk ditayangkan kepada anak dibawah umur. Pada saat kapal Van der Wijck tenggelam, efek yang diberikan tidak hidup jika dibandingkan dengan film luar negeri. Adapun beberapa konflik atau kejadian yang tidak diceritakan sebab dan kejelasan latar.

     Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa film “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” memungkinkan kita bicara mengenai cinta abadi yang terbentengi oleh adat yang kental lewat model film romantis Indonesia ini. Film ini menawarkan perjuangan seseorang yang tidak menyerah walaupun dihujani cobaan, melainkan bangkit bahkan merantau ke tempat yang jauh demi mencari perubahan, melupakan masa lalu, dan meraih impian. Film ini sangat cocok ditayangkan kepada kalangan remaja 17 tahun hingga ke atas karena banyak nilai kehidupan yang sifatnya dewasa yang baik untuk dipetik hikmahnya.

5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Reviewnya sih bagus, secara keseluruhan bagus, ada produser, sutradara, dan pembuat film, serta sinopsis dan kesan negatif dan positifnya. Tapi di dalamnya terlalu banyak sinopsis yang diberikan, memang sih sinopsis dibutuhkan di dalam review tapi alangkah baiknya diringkas, serta penggunaan bahasa yg menurut saya terlalu baku jadi kurang menarik perhatian pembaca dan penggunaan bahasa yang berputar-putar sebaiknya dihilangkan

    BalasHapus
  3. Setuju sama yang di atas mengenai bahasa dalam penyampaian.Untuk kedepannya dimohon pelajari terlebih dahulu apa itu Sinopsis dan apa itu Review agar tidak salah informasi bagi para pembaca.Selebihnya "Review" yang anda buat sudah mencakup banyak informasi mengenai Filmnya.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Secara keseluruhan reviewnya bagus tapi usahakan jangan terlalu banyak pengulangan ya di tafsirannya dan perbanyak lagi sinopsisnya yaa:)

    BalasHapus